Perancangan Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja Berbasis Balance Scorecard

Perancangan Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja Berbasis Balance Scorecard
 ABSTRACT 
Traditional measurement method are purposed to measure the performance of the company in a financial aspect only, and it can not measure the intangible asset and intellectual asset of the company. According to Dally (2010:56), Performance measurement is a measurement actions that conducted towards the activities of a companies value chain. Nowadays, the easiest and common performance measurement of a company are the measurent with traditional approach basis, which is the performance of measurement that focusing only to financial aspects. Therefore, the impact is the company will never understand the performance of other aspects. The idea to balance the performance measurement of those financial aspect and non financial aspect, provide the tools of performance measurement which is called as Balanced Scorecard. Balanced Scorecard approach can easily support to understand the vision in to a comprehensive and coherent of strategic plans. Balance scorecards use 4 (four) perspective to measure the performance of a company. The Key Performance Indicator (KPI) of those 4 (four) perspective related are as follows: Financial Perspective, Customer Perspective, Internal Business Process Perspective and Growth & Learning Perspective.  
Keyword: Balance Scorecard, Key Performance Indicator (KPI), Performance measurement 
Metode pengukuran kinerja tradisional adalah untuk mengukur kinerja dari perusahaan berdasarkan aspek keuangan saja, dan tidak dapat mengukur kinerja asset intangible dan asset intellectual perusahaan. Menurut Dally (2010:56), pengukuran kinerja adalah aktivitas pengukuran yang mengukur aktivitas perusahaan berdasarkan rantai nilai perusahaan tersebut. Saat ini, hal termudah dan umum dari pengukuran kinerja perusahaan adalah menggunakan basis pendekatan tradisional, yg fkusnya hanya aspek keuangan saja. Sehingga, akibatnya perusahaan tidak pernah tahu kinerja dari aspek lainnya. Ide untuk menyeimbangkan pengukuran dari aspek keuangan dan non keuangan menghasilkan suatu perangkat pengukuran yang disebut “Balance Scorecard”. Pendekatan Balance Scorecard dapat memudahkan untuk memahami secara komprehensif dan koheren dari suatu perencanaan strategis. Ada 4 (empat) perspektif yang di ukur yaitu perspektif keuangan, perspektif konsumen, perspektif proses bisnis internal dan perspektif pertumbuhn dan pembelajaran.  
Kata kunci: Balance Scorecard, Key Performance Indicator (KPI), Performance measurement.
PENDAHULUAN 
Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan besar dalam hal persaingan produksi pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan penanganan transaksi antara perusahaan dengan konsumen dan perusahaan dengan perusahaan lain. Dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat, perusahaan dituntut untuk lebih profesional dalam mengelola bisnisnya agar dapat mengembangkan usahanya pada tingkat yang lebih besar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan merumuskan dan menyempurnakan strategi bisnis. Dan, untuk mengetahui seberapa efektif penerapan strategi bisnis perusahaan, perlu dilakukan pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja perusahaan adalah hal yang sangat penting bagi manajemen untuk melakukan evaluasi terhadap performa perusahaan dan perencanaan tujuan di masa mendatang. Selama ini yang umum digunakan dalam perusahaan adalah pengukuran kinerja tradisional yang hanya menitikberatkan pada sektor keuangan saja. 
Pengukuran kinerja dengan sistem ini menyebabkan orientasi perusahaan hanya pada keuntungan jangka pendek dan cenderung mengabaikan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang. Pengukuran kinerja yang menitikberatkan pada sektor keuangan saja kurang mampu mengukur kinerja harta-harta tak tampak (intangible assets) dan harta-harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan (Hanuman & Kiswara, 2011: 3). Terfokusnya pada aspek finansial inilah yang sering membuat perusahaan hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan dalam jangka waktu yang pendek sehingga perusahaan kurang mampu menuntun dan mengevaluasi perjalanan perusahan melalui lingkungan yang kompetitif.(SABAKULA,2014:57)
Pengukuran kinerja pada perusahaan umumnya masih menggunakan ukuran keuangan/ financial Perspective (Singgih et al, 2001:48). Hal tersebut sudah tidak memadai lagi bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Saat ini, penilaian kinerja yang paling mudah dan umumnya dilakukan oleh perusahaan adalah pengukuran yang berbasis pada pendekatan tradisional, yaitu pengukuran kinerja menggunakan ukuran-ukuran yang hanya terfokus pada aspek keuangan saja. Pemikiran untuk menyeimbangkan kinerja aspek keuangan maupun aspek non keuangan, melahirkan suatu alat pengukuran kinerja yang dinamakan Balanced Scorecard. Balanced Scorecard pertama kali diperkenalkan oleh Kaplan dan Norton pada tahun 1990. Balanced Scorecard menerjemahkan misi dan strategi perusahaan ke dalam seperangkat ukuran yang menyeluruh yang memberi kerangka kerja bagi pengukuran dan sistem manajemen strategis (Kaplan dan Norton, 2000:2). 
Balanced Scorecard menerjemahkan misi dan strategi organisasi dalam tujuan operasional dan ukuran kinerja ke dalam empat perspektif, yaitu: perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (infrastruktur). (Hansen dan Mowen, 2009:366). Dalam Balanced Scorecard tujuan suatu unit tidak hanya dinyatakan dalam suatu ukuran finansial, melainkan dijabarkan lebih lanjut dalam pengukuran bagaimana unit usaha tersebut menciptakan nilai tambah non keuangan. Dengan Balanced Scorecard perusahaan dapat menerima umpan balik mengenai strategi yang diterapkan, memonitor dan menyesuaikan implementasi dari strategi yang telah direncanakan. Dengan Balanced Scorecard, kelemahan-kelemahan pengukuran kinerja berdasarkan pendekatan tradisional dapat diantisipasi dengan melakukan pengukuran pada masing-masing perspektif, sehingga kelemahan tersebut dapat dikurangi.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Case Study. Case study is an empirical inquiry that investigates a contemporary phenomenon within its real life context when the boundaries between phenomenon and context are not clearly evident and in which multiple source of evidence are used (Yin, 1989). Definisi lain adalah metode yang bersifat deskriptif dimana data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan bukan angka-angka (Moleong,1996).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Balanced Scorecard 
Pengertian Balanced Scorecard menurut Sumarsan (2010:219), adalah: “Sebuah perencanaan strategis dan sistem manajemen yang digunakan secara luas baik dalam organisasi yang berorientasi laba maupun dalam organisasi nirlaba di seluruh dunia dalam kegiatan-kegiatan usaha untuk menyelaraskan visi dan strategi organisasi, meningkatkan komunikasi internal dan eksternal, dan mengawasi kinerja organisasi sesuai dengan tujuan strategik perusahaan.”  Menurut Hansen dan Mowen (2009:366), Balanced Scorecard adalah “Sistem manajemen strategis yang mendefinisikan sistem akuntansi pertangggungjawaban berdasarkan strategi.” Balanced Scorecard terdiri dari dua kata, yaitu kata Balanced dan kata Scorecard. Kata score dapat diartikan sebagai suatu penghargaan atas poin-poin yang dihasilkan. Maka dengan pengertian yang lebih bebas, scorecard juga berarti suatu kesadaran bersama untuk mencatatkan hasil pengukuran tersebut sebelum dilakukan evaluasi. Sedangkan tambahan kata “balanced” di depan kata “score” maksudnya adalah bahwa angka-angka atau score tersebut harus mencerminkan keseimbangan antara sekian banyak elemen penting. Yang menunjuk pada adanya kesetimbangan pada perspektif-perspektif yang akan diukur, yaitu antara perspektif keuangan dan perspektif non keuangan (Nurjaman, 2013: 114). Dengan begitu, Balanced Scorecard dapat kita diartikan sebagai metode pengukuran strategi yang melihat bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh aspek keuangan saja, tetapi juga oleh aspek non keuangan. 
Menurut Sinha (2006: 73) bahwa “The aim of the Balanced Scorecard is to direct, help manage and change in support of the longer-term strategy in order to manage performance”. 
Seperti yang disampaikan oleh Khaton & Farouq (2014: 112) dalam kesimpulannya mengatakan bahwa: 
“The Balanced Scorecard is both a performance measurement and management tool that enables the organizations to clarify their vision and strategy and translate them into achievement. It focuses both the financial and non-financial aspects of a company's strategy and discusses cause and effect relationship that drives business achievement. 
Balanced Scorecard menutup lubang yang ada di sebagian besar sistem manajemen, yaitu kurangnya proses sistematis untuk melaksanakan dan memperoleh umpan balik sebuah strategi (Sipayung, 2009:13). Salah satu sistem pengukuran kinerja yang dapat menggambarkan secara komprehensif adalah Balance Scorecard (BSC) karena lebih mampu menjabarkan visi organisasi ke dalam tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang saling kait mengait menuju ke pencapaian visi dan misi organisasi (Irsutami & Ramdhaniah, 2011:1). Bahkan menurut Binden et al (2014: 38-44) dikatakan bahwa: 
“The Balanced Scorecard (BSC) is used as a measurement tool in order to measure an organization’s performance in both public and private sectors to achieve the key business strategies and objectives”. 
Seperti yang juga disampaikan oleh Awadallah & Alam (2015: 91-99), yang juga menegaskan bahwa penggunaan Balance Scorecard lebih pada pengukuran terhadap Kinerja, Strategi manajemen dan manajemen proyek, yaitu 
“The common uses of the BSC are performance measurement, strategic management and project management”. Walau demikian kritik juga diberikan terkait penerapan BSC yakni: The criticism faults Casey, Peck (2004) observation that BSC transforms strategy into tangible performance measures. Kemudian lebih lanjut Awadallah & Alam (2015: 91-99) juga memberikan kritik yg lebih detail lagi menurutnya BSC tidak dapat mendeskripsikan parameter KPI secara memadai:
“The BSC does not define KPIs adequately, and hence hampers identification. The criticism compares BSC Key Performance Indicators (KPIs) to the Winning (Key Performance Indicators) KPIs methodology and find faults in the approach the BSC conceptualizes performance measures” 
Empat Perspektif dalam Balanced Scorecard 
Menurut Krismiaji (2005:374), Balanced Scorecard menerjemahkan misi dan strategi organisasi dalam tujuan operasional dan ukuran kinerja dalam empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (infrastruktur). 
1. Perspektif Keuangan 
Pengukuran kinerja keuangan akan menunjukkan, apakah perencanaan dan pelaksanaan strategi memberikan perbaikan yang mendasar bagi keuntungan perusahaan. Balanced scorecard tetap mempertahankan ukuran kinerja keuangan, karena ukuran keuangan memberikan gambaran peristiwa historis (Sumarsan, 2010 : 220). Sasaran-sasaran keuangan dibedakan menjadi tiga tahap dalam siklus bisnis oleh Kaplan dan Norton (Sumarsan, 2010:222), yakni : 
a. Pertumbuhan (Growth) 
b. Bertahan (Sustain) 
c. Panen (Harvest) 
2. Perspektif Pelanggan 
Dalam perspektif pelanggan, Kaplan dan Norton menjelaskan terdapat kedua kelompok pengukuran (Sumarsan, 2010 : 25), yaitu: 
a. Pengukuran Inti Pelanggan (Customer Core Measurement) 
Pangsa Pasar (Market Share) Pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, baik diukur dengan jumlah pelanggan, jumlah rupiah yang dikeluarkan atau jumlah unit yang dijual. 
Retensi Pelanggan (Customer Retention) Pengukuran ini mengukur tingkat dimana perusahaan berhasil memelihara dan mempertahankan hubungan baik yang terus menerus dengan pelanggannya. 
Akuisisi Pelanggan (Customer Acquisition) Pengukuran ini mengukur berapa banyak perusahaan mampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru. 
Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction) Pengukuran ini mengukur tingkat kepuasan pelanggan yang terkait dengan kriteria kinerja perusahaan. 
Profatibilitas Pelanggan (Customer Profability) Pengukuran ini mengukur laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan dari pelanggan setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mempertahanlan pelanggan tersebut. 
b. Proposisi Nilai Pelanggan (Customer Value Proposition) 
Merupakan atribut yang diberikan perusahaan kepada barang dan jasanya untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas perusahaan. Proposisi nilai pelanggan didasarkan pada atribut sebagai berikut: 
Atribut Produk/Jasa (Product/Service Attributes) Merupakan atribut suatu produk atau jasa yang meliputi atribut fungsi, harga, kualitas dan waktu. Karena para pelanggan memiliki referensi yang berbeda-beda atas produk atau jasa yang ditawarkan. 
Hubungan Pelanggan (Customer Relationship) Atribut ini menyangkut penyampaian produk atau jasa kepada pelanggan yang meliputi dimensi waktu penyerahan dan ketanggapan perusahaan atas permintaan pelayanan setelah produk atau jasa dibeli, serta bagaimana perasaan pelanggan terhadap proses pembelian yang dilayani perusahaan pada saat membeli produk atau jasa tersebut. 
Citra dan Reputasi (Image and Reputation) Atribut ini menggambarkan faktor-faktor yang tidak berwujud untuk menarik seorang pelanggan untuk berhubungan dengan perusahaan, hal ini dapat dilakukan melalui iklan dan selalu menjaga kualitas produk atau jasa seperti yang dijanjikan oleh perusahaan. 
3. Perspektif Proses Bisnis Internal 
Dalam proses bisnis internal, perusahaan pada umumnya tidak terlepas dari kegiatan inovasi, operasi, dan layanan purna jual (Sumarsan, 2010:229). 
Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga hal tersebut di atas: 
Inovasi (Innovation) 
Pada proses ini, perusahaan berusaha menggali pemahaman tentang kebutuhan dari pelanggan dan menciptakan produk atau jasa yang mereka butuhkan. 
Operasi (Operation) 
Proses operasi adalah proses untuk memproduksi dan mendistribusikan produk atau jasa ke tangan konsumen. Proses operasi menekankan kepada penyampaian produk kepada pelanggan secara efisien, dan tepat waktu. 

Layanan Purna Jual (Post Sakes Service) 
Pada proses ini merupakan jasa pelayanan kepada pelanggan setelah dilakukan penjualan produk atau jasa. 
4. Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran 
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan mencakup 3 kategori yang dapat digunakan perusahaan sebagai tolak ukur (Sumarsan, 2010 : 232), yaitu : 
Kemampuan pekerja 
Kemampuan pekerja merupakan bagian kontribusi pekerja pada perusahaan. tiga hal yang harus diperhatikan oleh manajemen dalam menerapkan Balanced Scorecard (Wantira, 2011 : 31), yaitu : 
1) Kepuasan pekerja 
Kepuasan pekerja merupakan prakondisi untuk meningkatkan produktivitas, tanggung jawab, kualitas, dan pelayanan kepada konsumen. 
2) Retensi pekerja 
Retensi pekerja adalah kemampuan imtuk mempertahankan pekerja terbaik dalam perusahaan. 
3) Produktivitas pekerja 
Produktivitas pekerja merupakan hasil dari pengaruh keseluruhan dari peningkatan keahlian dan moral, inovasi, proses internal, dan kepuasan pelanggan. 
Kemampuan sistem informasi. 
Untuk mencapai tujuan perusahaan maka keahlian pekerja saja tidak cukup tetapi masih diperlukan sistem informasi yang yang baik, yaitu tingkat ketersediaan informasi, tingkat ketepatan informasi yang tersedia, serta jangka waktu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. 
Motivasi, pemberdayaan dan keselarasan 
Merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin adanya proses yang berkesinambungan terhadap upaya pemberian motivasi dan inisiatif yang sebesar-besarnya bagi para pekerja, agar para pekerja mempunyai wewenang yang memadai untuk mengambil keputusan. Sudirman (2013) menyebutkan, bahwa untuk meningkatkan efektifitas kinerja karyawan dapat dilakukan dengan pemberian motivasi. berupa pemberian 
insentif, pemberian penghargaan, pemberian pendidikan dan pelatihan, serta promosi jabatan.
Keuntungan Penggunaan Balanced Scorecard 
Beberapa keuntungan dari penggunaan sistem pengukuran kinerja Balanced Scorecard (Moeheriono, 2009 : 128), yaitu: 
a. Memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi organisasi. 
b. Mengkomunikasikan dan menghubungkan sasaran strategik dengan indikator. 
c. Merencanakan, menyiapkan target, dan menyesuaikan inisiatif strategik. 
d. Meningkatkan umpan balik untuk pengambilan keputusan strategik. 
Penggunaan Model Sistem dalam Perancangan Sistem Informasi 
Menurut Mc. Leod (2001:12) adalah Penyederhanaan dari sesuatu. Model mewakili objek, aktivitas atau entitas. Secara spesifik kegunaan model adalah sebagai berikut: 
1. Mempermudah pengertian 
2. Mempermudah komunikasi 
3. Memprediksi kejadian di masa depan 


KESIMPULAN
Konsep Balanced scorecard pada dasarnya adalah suatu konsep pengukuran kinerja yang berusaha menerjemahkan strategi organisasi ke dalam serangkaian aktivitas yang terencana yang dapat diukur secara kontinyu. Balanced scorecard meninjau peningkatan kinerja sebuah organisasi dari empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif customer, perspektif proses bisnis internal, serta perpektif pertumbuhan dan pembelajaran. Keempat perspektif tersebut saling mendukung satu sama lain dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Dalam pengukuran terhadap keempat perspektif tersebut, keseimbangan antara scorecard dari masing-masing perspektif dapat menentukan peningkatan kinerja yang berlipatganda. Hal ini disebabkan karena peningkatan kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran akan mendorong peningkatan kinerja perspektif proses bisnis internal dan perspektif customer yang akan mendorong kinerja finansial perusahaan secara keseluruhan sehingga terjadi pelipatgandaan kinerja perusahaan. Dalam prakteknya, penerapan konsep Balanced Scorecard ini tidaklah semudah yang diperkirakan karena penerapan konsep ini membutuhkan suatu komitmen dari manajemen pusat (leadership) maupun karyawan yang terlibat dalam organisasi perusahaan. Melalui survei yang dilakukan oleh Sarah Mavrinac (Mavrinac, 1999:1) dan survei yang dilakukan oleh konsultan Manajemen di Amerika, Ian Alliots (Mattson, 1999:4), menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan menemui kesulitan dalam melakukan pendeteksian terhadap keselarasan aktivitas dan strategi perusahaan
dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka panjang. Sehingga banyak dijumpai kasus ketidakselarasan tujuan dan strategi perusahaan atau strategi yang dijalankan melenceng dari tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam jangka panjang.
Tingkat kesulitan lain yang kebanyakan ditemui oleh beberapa perusahaan di Amerika tersebut antara lain adalah : kekhawatiran adanya perubahan atas sistem pengendalian manajemen yang berdasar pada konsep Balanced Scorecard akan mengganti sistem lama dan membawa hasil perubahan yang negatif, dan adanya kesulitan dalam mempersatukan culture yang dimiliki oleh organisasi dengan strategi organisasi yang berdasar pada konsep 

DAFTAR PUSTAKA
Awadallah, Emad A. & Allam, Amir, A Critique of the Balanced Scorecard as a Performance Measurement Tool, International Journal of Business and Social Science, Vol. 6, No. 7; July 2015 p-91-99, ISSN 2219-1933 (Print), 2219-6021 (Online) © Center for Promoting Ideas, USA www.ijbssnet.com 
Binden et al, Employing the Balanced Scorecard (BSC) to Measure Performance in Higher Education – Malaysia, International Journal of Information and Communication Technology Research, Volume 4 No. 1, January p 38-44, 2014 ISSN 2223-4985, ©2014 ICT Journal. http://www.esjournals.org 
Casey, W., and Peck, W.(2004).A balanced view of balanced scorecard. Executive Leadership Group, White Paper: The Leadership Lighthouse Series 
Ciptani, Monika Kussetya, Balanced Scorecard Sebagai Pengukuran Masa Depan: Suatu Pengantar, Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/, Mei 2000, 21-35 
Dally, Dadang, 2010, Balanced scorecard, Cetakan Kedua, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. 
Fitriah, 2010, Penerapan balanced scorecard sebagai alat ukur kinerja PT. Triduta Solusindo Computama, Skripsi, Universitas Bhayangkara, Surabaya.