Analisis Pembelajaran Metodologi Penelitian Pada Mahasiswa Jurusan Tarbiyah IAIN Kendari

   Salah satu komponen utama dalam sistem perguruan tinggi adalah 
mahasiswa. Mereka menjadi sentrum dari penyelenggaraan pendidikan 
pada perguruan tinggi Singkatnya, kehidupan kemahasiswaan (dalam arti 
luas) merupakan potret dari kehidupan perguruan tinggi secara keseluruhan. Dalam konteks pembelajaran, mahasiswa yang berada pada posisi “puncak” para pebelajar mesti menunjukkan karakter akademik-ilmiah yang kuat.
   Secara faktual, khususnya pada jurusan tarbiyah sangat mudah ditemukan bukti-bukti lemahnya tradisi belajar dan tradisi akademik secara 
luas pada mahasiswa. Pengalaman penulis berinteraksi di kelas  menunjukkan mahasiswa menggunakan cara-cara instant dalam proses 
perkuliahan, seperti: memindahkan bahan dari internet dan diklaim sebagai 
karya sendiri untuk tugas-tugas kuliah. Khusus untuk mata kuliah Metodologi penelitian, dalam menyusun tugas proposal penelitian, mahasiswa terbiasa mengambil (mengkopi) proposal yang sudah jadi dari orang lain maupun mengunduh file-file di internet.
   Pada umumnya usia mahasiswa ketika masuk ke Perguruan Tinggi 
adalah 17 sampai 18 tahun, dimana usia tersebut berada dalam kategori 
dewasa. Akibatnya adalah dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi harus 
selaras dengan kondisi kejiwaan mereka yang sudah dewasa. Ada 5 (lima) asumsi krusial tentang karakteristik pelajar orang dewasa yang digagas oleh Malcolm, yakni:
1.Self-concept
2. Experince
3. Readiness to learn 
4. Orientation To Learning 
5. Motivation to learn
   1. Perilaku Belajar Mahasiswa 
Informasi terkait perilaku belajar mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Kendari terutama dalam mata kuliah Metodologi Penelitian, didasarkan pada pengamatan dan interaksi penelitidengan mahasiswa pada saat memberikan mata kuliah. Pengamatan dilakukan pada tugas-tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa setiap pertemuan.
   Fakta-fakta yang ditemukan di lapangan di antaranya: 
 a) Lemah dalam Manajemen Belajar
ketika menemukan banyak mahasiswa yang kesulitan dalam melakukan tugas-tugas penelitian, penulis berupaya mendalami fakta tersebut dengan banyak melakukan diskusi-diskusi selama perkuliahan.
b) Lemah dalam strategi belajar 
 Kelanjutan dari manajemen belajar yang baik adalah strategi belajar 
yang baik pula sehingga tujuan-tujuan pembelajaran tercapai. Strategi 
belajar bersifat individual, yakni memutuskan kegiatan-kegiatan apa yang menjadi prioritas utama yang harus didahulukan dan menjadi simpulkan 
dari kegiatan belajar yang lebih besar
   2. Konsep Diri
Beberapa mahasiswa menunjukkan kemauan dalam mengatasi masalah, mampu berargumentasi secara terbuka, dan berusaha untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. Dalam proses perkuliahan mereka menunjukkan keingin tahuan yang tinggi, berani mengemukakan pendapat, dan memiliki keyakinan bahwa dengan belajar akan diperoleh peningkatan. Ini merupakan gejala positif dari konsep diri, walaupun 
kelompok mahasiswa ini bukan merupakan arus dominan. Beberapa temuan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang belum mau menerima tindakan korektif sebagai sebuah keharusan dalam perbaikan. Mereka menunjukkan ketidak senangan ketika tugas-tugas yang mereka kerjakan harus dikoreksi oleh dosen, apalagi jika harus menambah materi pada tugas mereka. Termasuk ketika memasukkan judul usulan penelitian di program studi, banyak mahasiswa yang merasa bahwa merekadipersulit jika judul yang diajukan tidak langsung diterima. Pada titik 
ekstrim berkembang persepsi bahwa mereka tidak disukai atau kurang 
dipedulikan. Dalam konteks ini, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya 
mahasiswa jurusan tarbiyah memiliki konsep diri yang cenderung negatif.
   3. Motivasi Berprestasi 
Salah satu indikator dari motivasi berprestasi adalah selalu 
berusaha dan tidak mudah menyerah dalam kompetisi. Penelitian ini 
menemukan fakta bahwa umumnya mahasiswa tidak menyadari bahwa 
iklim di dalam kelas adalah iklim kompetisi.
   4. Realitas Belajar Mahasiswa dalam Mata Kuliah Metode Penelitian 
Informasi pada bagian ini diperoleh dari hasil pengamatan dalam 
pembelajaran di kelas dan interaksi melalui diskusi dengan mereka selama 
perkuliahan. Secara rinci informasinya dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Budaya Belajar
Pada dasarnya perubahan yang dialami oleh seseorang dalam 
pembelajaran disebabkan oleh keinginan kuat dan konsistensi (istiqamah) 
tinggi sehingga menjadi kebiasaan atau membentuk budaya belajar. 
b. Kesulitan-Kesulitan Dalam Memahami Proses Penelitian
Pembelajaran penelitian yang penulis lakukan di kelas adalah 
dengan pendekatan proses, sehingga materinya langsung terkait dengan 
pada praktek-praktek penelitian di lapangan. Adapun pengetahuan 
tentang teori-teori penelitian disampaikan jika diperlukan atau jika ada pertanyaan dari mahasiswa. Fakta-fakta yang ditemukan tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam pembelajaran metode penelitian adalah: 
1) Kesulitan mengungkap fakta-fakta lapangan dalam bahasa operasional. 
2) Kesulitan menjelaskan fakta-fakta lapangan yang mengandung 
masalah
3) Kesulitan membangun konsep berdasarkan fakta lapangan.
4) Kesulitan merumuskan topik penelitian berdasarkan fakta-fakta lapangan.
5) Kesulitan dalam melakukan sintesis teori (definisi konseptual) dan merumuskan definisi opersional.
6) Kesulitan menjelaskan alur pikir topik penelitian 
7) Kesulitan dalam membuat instrumen penelitian 
8) Kesulitan dalam memahami tekhnik analisis data 
   Dinamika pembelajaran penelitian mahasiswa pada jurusan 
Tarbiyah STAIN Kendari merupakan potret dari interaksi edukatif dosen 
dengan mahasiswa untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran penelitian.Sebagai proses yang dinamis, pembelajaran penelitian telah dilaksanakan dengan memadukan berbagai pendekatan, metode, maupun strategi yang dijalani secara bersama dosen dengan mahasiswa.
   Temuan menunjukkan mahasiswa 
memiliki motivasi berprestasi yang rendah, serta memiliki budaya belajar 
yang rendah pula. Simpul dari semua temuan itu adalah pada konsep diri 
yang lemah, yaitu tidak peduli terhadap figur yang menjadi contoh dalam 
belajar maupun melihat diri sendiri secara ideal (self ideal), rendah 
kepedulian diri dalam kaitannya dengan penilaian orang lain (self image), 
dan jati diri (self esteem) yang tidak menunjukkan perilaku committed 
terhadap kualitas diri.
   Banyak pandangan dengan hakikat belajar, akan tetapi intinya 
adalah pada perubahan perilaku. Walaupun demikian, tidak semua 
perubahan perilaku dapat disebut sebagai belajar, karena perubahan 
perilaku karena belajar memiliki ciri-ciri khas tertentu. Muhibbin, mengemukakan bahwa: “di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang penting adalah: 
1) Perubahan itu intensional; 
2) Perubahan itu positif dan akif; 
3) Perubahan itu efektif dan fungsional